Memahami Indikator PER dalam Analisis Fundamental Saham

Price to Earning Ratio (PER) adalah salah satu indikator yang popular digunakan dalam analisis fundamental saham. PER atau perbandingan harga saham dan laba per saham perusahaan adalah rasio yang sering digunakan oleh https://www.saopauloplazamedellin.com investor dalam menilai mahal murahnya suatu saham berdasarkan kemampuan emiten dalam menghasilkan laba bersih. Apabila kamu tertarik berinvestasi saham dengan metode value investing, kamu wajib mempelajari PER lebih dalam lagi karena rasio ini termasuk cukup sering dipakai dalam analisis saham. Selain itu, PER saham juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.

Meski bukan togel macau satu-satunya aspek yang penting, setidaknya PER membantu kamu, di samping rasio valuasi lainnya, seperti PBV (Price to Book Value). Perlu dipahami juga bahwa dengan menggunakan PER pun bukan jaminan, seperti dimana saham yang rendah bisa berarti harganya akan naik di masa depan. Bahkan dalam sejumlah kasus, saham dengan PER tinggi pun tetap bisa naik, dikarenakan adanya berbagai macam faktor. Bisa diambil kesimpulan bahwa dengan memahami PER, bisa membantu kamu membuat keputusan investasi yang tepat.

Kekurangan P/E Ratio

Secara umum, Price to Earning Ratio adalah metrik yang berguna untuk mendapatkan penilaian cepat dari harga saham perusahaan. Walau begitu, rasio P/E tetap memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya:

  • Rasio P/E sulit digunakan saat membandingkan valuasi saham lintas industri karena setiap industri pada dasarnya memiliki tolak ukur PER yang berbeda-beda
  • Saham dengan rasio P/E yang rendah tidak selalu berarti bahwa saham sedang undervalued. Namun, bisa jadi karena perusahaan yang lagi berkinerja buruk
  • Saham dengan rasio P/E tinggi juga tidak selamanya berarti saham sudah overvalued. Banyak saham dengan PER yang tinggi di pasar tapi terus bertumbuh. Kalau di Indonesia, daftar saham ini bisa kamu cek di indeks IDX Growth 30
  • Rasio P/E menggunakan laba per saham yang bisa menyesatkan. Perusahaan dapat melaporkan pendapatan positif sementara memiliki arus kas bebas negatif, yang berarti pengeluaran lebih banyak daripada pendapatan. Untuk itu, investor tetap disarankan mengecek laporan keuangan emiten secara menyeluruh agar tahu kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya
  • Rasio P/E bukanlah metrik tunggal yang bisa memberitahu investor apakah suatu saham merupakan investasi yang baik atau tidak

Cara Menghitung PER (Price Earning Ratio)

Ada dua komponen yang digunakan ketika menghitung nilai PER, yaitu Closing Price dan Earning per Share. Closing Price adalah harga saham per lembar yang terakhir muncul pada sebuah saham menjelang bursa tutup, sementara Earning per Share atau EPS adalah laba perusahaan yang dibagi per lembar saham. Sebagai contoh perhitungan PER antara PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Excel Axiata Tbk (EXCL) adalah perusahaan yang beroperasi di sektor yang sama yaitu telekomunikasi.

Closing Price pada tahun 2021 yaitu tanggal 30 Desember,- TLKM = Rp 4.040 ,sedangkan EXCL Rp 3.170.

Laba bersih tahun 2021,- TLKM = Rp 24,76 T ,sedangkan EXCL = Rp 1,28 T.

Jumlah saham yang beredar 2021,- TLKM = 99,06 M lembar ,sedangkan EXCL = 10,72 M.

Maka perhitungan PER pada kedua perusahaan yang disebut di atas adalah sebagai berikut ini:

PER TLKM = Rp 4.040 : (Rp 24,76 T : 99,06 M) = 16

PER EXCL = Rp 3.179 : (Rp 1,28 T : 10,72 M) = 27

Dari hasil perhitungan tersebut, bisa diketahui bahwa PER PT Telkom Indonesia Tbk ternyata lebih rendah bila dibandingkan dengan PT Excel Axiata Tbk. Kesimpulannya adalah saat membandingkan dari laba yang dihasilkan oleh kedua perusahaan, maka harga saham TLKM lebih murah dibandingkan EXCL.

Saham dengan PER yang tinggi biasanya ada pada saham yang sedang bertumbuh (growth stocks). Hal ini disebabkan adanya ekspektasi terhadap prospek pertumbuhan yang tinggi sehingga investor bersedia untuk membayar lebih. Saham dengan PER yang terlalu tinggi sebaiknya dihindari karena volatilitasnya juga tinggi dan tentunya sangat berisiko. PER yang tinggi juga mengindikasi bahwa saham tersebut dinilai terlalu tinggi atau overvalued.

Sementara saham dengan PER yang rendah, diartikan juga sebagai salam bernilai (value stocks). Di mana value stocks merupakan saham yang diperdagangkan dengan harga rendah, padahal secara fundamental menunjukkan harga jualnya bisa lebih tinggi. Pada PER yang rendah bisa menjadi petunjuk jika saham dinilai terlalu rendah atau undervalued. Sejumlah investor berpendapat bahwa PER yang rendah adalah saham yang salah harga dan menarik untuk dibeli.

Цена: р.

Заказать